JAKARTA - Tekanan terhadap rupiah kembali terasa di awal perdagangan hari ini.
Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) melemah setelah sempat dibuka stagnan. Rupiah menyusut 0,11% ke posisi Rp16.932/US$ dari pembukaan di Rp16.913/US$.
Kembalinya penguatan the greenback membuat mayoritas mata uang Asia berada di zona merah. Hanya baht Thailand yang mampu menguat 0,4% dan rupiah sempat terapresiasi tipis 0,02% setelah pengumuman suku bunga acuan.
Pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan sebesar 0,42%, diikuti ringgit Malaysia dan peso Filipina masing-masing 0,23%, serta yen Jepang yang turun 0,13%.
Pada perdagangan yang telah dibuka hari ini, tekanan masih berlanjut pada beberapa mata uang Asia. Yen Jepang melemah 0,07%, ringgit Malaysia turun 0,06%, dan dolar Singapura terkoreksi 0,02%. Sebaliknya, won Korea Selatan berbalik naik 0,05% dan yuan offshore China menguat tipis 0,02%.
Pengaruh Kuat Dolar Amerika Serikat
Penguatan mata uang Asia tampak terbatas karena indeks dolar AS kembali terapresiasi. Indeks tersebut naik 0,23% menjadi 97,92, memperlihatkan dominasi dolar di pasar global. Kinerja ekonomi Amerika Serikat yang solid menjadi salah satu faktor pendorong utama.
Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi AS tercatat 2,7%. Walaupun penciptaan lapangan kerja tidak bergerak signifikan, konsumsi rumah tangga tetap resilien. Gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan juga menopang aktivitas ekonomi negara tersebut.
Dukungan data makro yang kuat memperkokoh posisi dolar terhadap berbagai mata uang. Hal ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin terasa di tengah dinamika global. Sentimen eksternal pun menjadi penentu arah pergerakan jangka pendek.
Risiko Global dan Ketidakpastian Geopolitik
Dari sisi global, ketegangan geopolitik turut membayangi pasar. China dilaporkan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Jepang agar menarik pernyataannya terkait Taiwan. Situasi ini menambah ketidakpastian di kawasan Asia.
Perdana Menteri Sanae Takaichi sejauh ini mampu mengelola tekanan tersebut. Ancaman dari Beijing masih bersifat retoris meskipun tetap memicu kekhawatiran. Pasar mencermati sejauh mana Amerika Serikat akan membiarkan situasi itu berlarut.
Ketidakpastian arah komitmen aliansi AS di bawah Presiden Donald Trump pada 2026 juga memicu sentimen risk-off. Eskalasi tarif terhadap sekutu seperti Korea Selatan dan Uni Eropa berpotensi meningkat. Kebijakan tarif yang diberlakukan kepada Korea Selatan menunjukkan bahwa kedekatan hubungan tidak selalu menjamin perlindungan dari tekanan dagang.
Faktor Domestik dan Premi Risiko
Dari dalam negeri, arah suku bunga yang ditahan lebih lama oleh Bank Indonesia belum sepenuhnya disambut positif pasar. Bank Indonesia menyatakan bahwa rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued. Pernyataan tersebut dinilai sejalan dengan sejumlah data makro ekonomi.
Inflasi IHK sempat melonjak menjadi 3,6% secara tahunan pada Januari dari 2,9% pada Desember. Kenaikan itu melampaui target 1,5-3,5% akibat pemangkasan sementara tarif listrik pada kuartal pertama 2025. Namun inflasi diperkirakan kembali ke kisaran target pada Maret.
Inflasi inti naik 0,1 basis poin menjadi 2,5% pada Januari. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target 2,5%±1 yang ditetapkan Bank Indonesia. Jika rupiah memang belum sesuai nilai wajarnya seperti dikatakan Gubernur BI Perry Warjiyo, maka pelemahan lebih dipengaruhi premi risiko yang tinggi.
Premi risiko itu muncul seiring pembahasan mengenai batas defisit anggaran di DPR. Kekhawatiran bahwa disiplin fiskal dapat ditinggalkan membuat investor berhati-hati. Jika aturan batas defisit 3% dari PDB benar-benar dihapus, fleksibilitas anggaran memang meningkat, namun risiko outflow dan penurunan rating kredit juga bisa meluas.
Analisis Teknikal dan Arah Selanjutnya
Sejak awal tahun, pelemahan rupiah membawa nilai tukar mendekati area psikologis Rp16.900-17.000 per dolar AS. Level tersebut kini telah tercapai dengan posisi kurs JISDOR di Rp16.925/US$. Area ini menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Secara teknikal jangka pendek, rupiah masih berpotensi melemah. Support pertama berada di Rp16.900/US$, dengan target pelemahan berikutnya di Rp16.950/US$. Jika rupiah bertahan di atas Rp16.950/US$ setelah tertekan, peluang menuju Rp17.000/US$ tetap terbuka.
Di sisi lain, trendline pada time frame harian menjadi resistance psikologis di Rp16.860/US$. Target penguatan lanjutan berada di Rp16.800/US$. Kegagalan kembali menguat ke bawah Rp16.500/US$ dalam waktu dekat mengindikasikan pasar masih membebankan premi risiko tambahan.
Sebaliknya, apabila pemerintah mampu memberikan kejelasan arah kebijakan fiskal serta menjaga kredibilitas batas defisit anggaran, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.
Kejelasan tersebut dapat memperbaiki persepsi risiko dan menahan arus keluar modal. Dengan kombinasi sentimen global dan domestik, arah rupiah hari ini masih berada dalam bayang-bayang tekanan meski peluang stabilisasi tetap terbuka.