Update Harga Batu Bara Mulai Bangkit Setelah Sempat Tertekan Pasar Global

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36:26 WIB
Update Harga Batu Bara Mulai Bangkit Setelah Sempat Tertekan Pasar Global

JAKARTA - Setelah mengalami tekanan selama lima hari berturut-turut, harga batu bara akhirnya menunjukkan tanda pemulihan. 

Pada perdagangan 26 Februari 2026, harga batu bara tercatat di level US$ 117,6 atau menguat 0,3%. Kenaikan ini sekaligus memutus tren penurunan yang sebelumnya mencapai sekitar 4% dalam lima hari beruntun.

Penguatan harga tersebut menjadi sinyal awal stabilisasi pasar setelah fase koreksi cukup tajam. Pelaku pasar mulai melihat adanya faktor fundamental yang menopang pergerakan harga. Meski tipis, kenaikan ini memberi sentimen positif terhadap komoditas energi tersebut.

Sebelumnya, harga batu bara terus tertekan akibat kombinasi pasokan dan permintaan yang belum seimbang. Namun, perubahan kondisi di pasar utama mulai memberi ruang bagi pergerakan naik. Momentum ini menjadi perhatian pelaku industri energi global.

Faktor Impor dan Pasokan Lebih Ketat

Harga batu bara termal di pelabuhan utara China tercatat menguat seiring meningkatnya biaya impor. Kenaikan biaya tersebut membuat batu bara domestik menjadi lebih kompetitif di pasar dalam negeri. Kondisi ini mendorong harga pelabuhan tetap bertahan bahkan mengalami penguatan.

Selain kenaikan biaya impor, pasokan batu bara impor juga semakin terbatas. Penurunan ketersediaan terjadi akibat kendala ekspor serta kebijakan produksi di negara pemasok. Situasi tersebut berkontribusi pada pengetatan suplai di pasar utama Asia.

Stok batu bara di pelabuhan utama kawasan Bohai seperti Qinhuangdao, Caofeidian, Jingtang, dan Huanghua tercatat lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Penurunan stok ini memberikan dukungan tambahan terhadap harga. Dengan pasokan yang lebih terbatas, tekanan penurunan harga menjadi berkurang.

Kenaikan Tertahan Aktivitas Perdagangan Lambat

Meski demikian, kenaikan harga belum berlangsung signifikan. Aktivitas perdagangan masih relatif lambat karena sebagian pembeli menilai harga saat ini cukup tinggi. Banyak pengguna akhir memilih bersikap wait-and-see sehingga lonjakan harga tertahan.

Selain itu, stok batu bara di pembangkit listrik masih relatif tinggi setelah periode libur. Kondisi ini membuat kebutuhan pembelian belum mendesak dalam waktu dekat. Akibatnya, permintaan tambahan belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan lebih tajam.

Sebagian pelaku pasar memperkirakan harga masih berpotensi naik jika kendala impor terus berlanjut. Namun terdapat risiko kenaikan yang terbatas apabila produksi domestik meningkat atau permintaan memasuki musim sepi. Situasi ini menciptakan keseimbangan rapuh antara optimisme dan kehati-hatian.

Pasar Batu Bara Kokas Masih Tertekan

Di sisi lain, pasar batu bara kokas menunjukkan dinamika berbeda setelah libur panjang Spring Festival di China. Pasokan batu bara kokas kembali lebih cepat dibandingkan pemulihan permintaan. Ketidakseimbangan ini menciptakan tekanan pada pasar domestik.

Tambang-tambang yang sempat berhenti beroperasi selama liburan segera kembali normal bahkan meningkat produksinya. Sementara itu, permintaan dari pabrik kokas dan produsen baja masih lambat pulih. Banyak pelaku industri memanfaatkan stok lama dan belum agresif melakukan pembelian baru.

Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas perdagangan tetap lesu. Negosiasi harga pun cenderung tertekan karena pembeli bersikap hati-hati. Sentimen pasar terhadap batu bara kokas masih relatif lemah.

Prospek Permintaan dan Tantangan Ke Depan

Di sisi permintaan, pabrik kokas dan baja lebih memilih menguras persediaan yang tersedia. Mereka belum melakukan restock secara signifikan karena industri baja masih berada pada fase off-season. Pelemahan sektor real estat turut membatasi pembelian batu bara kokas.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pemulihan harga batu bara secara umum masih menghadapi tantangan. Untuk batu bara termal, faktor impor dan penurunan stok menjadi penopang utama harga. Namun untuk batu bara kokas, kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan masih menjadi hambatan.

Ke depan, arah harga akan sangat dipengaruhi perkembangan produksi domestik dan kebijakan negara pemasok. Jika pengetatan impor berlanjut, harga berpotensi menguat lebih lanjut. Sebaliknya, jika produksi meningkat dan permintaan belum pulih, kenaikan kemungkinan tetap terbatas dalam jangka pendek.

Terkini