JAKARTA - Kesejahteraan petani menunjukkan sinyal penguatan pada awal tahun ini.
Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani Februari 2026 naik menjadi 125,45 atau meningkat 1,50 persen dibandingkan Januari 2026. Angka tersebut menjadi rekor baru dalam periode penghitungan NTP dan mencerminkan rasio harga yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang dibayar.
Peningkatan ini dipandang sebagai indikator penting dalam melihat kondisi ekonomi perdesaan. NTP kerap digunakan untuk mengukur kemampuan atau daya beli petani terhadap kebutuhan konsumsi dan biaya produksi. Ketika NTP naik, secara umum posisi tawar petani terhadap barang dan jasa juga membaik.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam penguatan daya beli petani nasional.
Ia menilai kenaikan ini tidak terlepas dari rangkaian deregulasi, efisiensi anggaran, serta transformasi pertanian menuju sistem modern. Kebijakan yang dijalankan pemerintah disebut mulai memberikan dampak nyata di lapangan.
"Capaian ini menjadi rekor baru. Ini bukti kebijakan kita di lapangan mulai dirasakan langsung oleh petani," ujar Amran dalam keterangan tertulis. Pernyataan tersebut menegaskan optimisme pemerintah terhadap arah kebijakan sektor pertanian. Momentum ini juga menjadi dorongan untuk menjaga konsistensi program peningkatan produksi dan efisiensi.
Konsep dan Perhitungan Nilai Tukar Petani
Mengutip penjelasan Badan Pusat Statistik, Nilai Tukar Petani merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Indeks harga yang diterima petani sering disingkat It, sedangkan indeks harga yang dibayar petani disebut Ib. Perbandingan kedua indeks ini menjadi dasar utama dalam menghitung NTP setiap bulan.
NTP menjadi salah satu indikator penting untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Selain itu, NTP juga menunjukkan daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Dengan demikian, perubahan NTP mencerminkan dinamika keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran petani.
Kenaikan NTP berarti harga komoditas yang dijual petani naik lebih tinggi dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan. Sebaliknya, jika NTP turun, maka tekanan biaya relatif lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima. Oleh karena itu, angka 125,45 pada Februari menjadi perhatian karena mencerminkan perbaikan kondisi secara umum.
Penjelasan BPS dan Faktor Pendorong
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan NTP terjadi karena It meningkat lebih tinggi dibandingkan Ib. Ia menyebutkan bahwa pada Februari 2026 NTP tercatat sebesar 125,45 atau naik 1,50 persen dibandingkan Januari 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani mengalami perbaikan.
Ateng merinci bahwa It pada Februari 2026 tercatat sebesar 158,38 atau naik 2,17 persen dibanding bulan sebelumnya. Sejumlah komoditas memberikan andil terhadap kenaikan indeks harga yang diterima petani, antara lain cabai rawit, karet, kelapa sawit, dan bawang merah. Peningkatan harga komoditas tersebut mendorong pendapatan petani secara agregat.
"Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga mengalami kenaikan sebesar 0,65 persen menjadi 126,24. Peningkatan ini antara lain dipengaruhi oleh naiknya harga cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras," jelasnya. Meskipun Ib meningkat, laju kenaikannya masih lebih rendah dibandingkan It sehingga NTP tetap naik.
Perkembangan Subsektor Pertanian
Secara subsektor, sebagian besar kelompok pertanian mengalami kenaikan NTP pada Februari 2026. Subsektor hortikultura mencatat kenaikan tertinggi dari 119,62 pada Januari menjadi 139,57 pada Februari atau melonjak 16,68 persen. Lonjakan ini menjadi kontributor utama penguatan NTP secara keseluruhan.
"Selain hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 0,24 persen, peternakan naik 1,68 persen, dan perikanan naik 0,72 persen. Untuk perikanan, NTP nelayan naik 0,35 persen dan NTP pembudidaya ikan meningkat 1,32 persen," tambahnya. Data tersebut menunjukkan bahwa perbaikan terjadi hampir di seluruh lini sektor pertanian dan perikanan.
Subsektor tanaman pangan menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan. NTP tanaman pangan turun dari 113,43 pada Januari menjadi 112,43 pada Februari 2026 atau berkurang 0,88 persen. Penurunan ini menjadi catatan tersendiri meskipun secara umum NTP nasional tetap mencetak rekor baru.
Implikasi dan Harapan ke Depan
Rekor NTP Februari 2026 memberi gambaran bahwa keseimbangan harga relatif menguntungkan petani. Kenaikan harga komoditas utama mampu mengimbangi bahkan melampaui peningkatan biaya yang harus dibayar. Situasi ini memperkuat daya beli dan memberi ruang bagi petani untuk meningkatkan investasi produksi.
Pemerintah menilai capaian ini sebagai hasil dari kombinasi kebijakan dan perbaikan tata kelola sektor pertanian. Deregulasi, efisiensi anggaran, serta transformasi menuju sistem modern disebut menjadi fondasi utama penguatan sektor ini. Dengan tren positif tersebut, harapannya stabilitas harga dan produksi dapat terus terjaga.
Ke depan, tantangan tetap ada terutama dalam menjaga keseimbangan antara harga jual dan biaya produksi. Fluktuasi harga komoditas serta faktor cuaca bisa memengaruhi capaian NTP pada bulan-bulan berikutnya. Namun untuk saat ini, data menunjukkan bahwa daya beli petani berada pada level yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.