Logistik

Program Strategis Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Sektor Logistik Hingga 8 Persen

Program Strategis Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Sektor Logistik Hingga 8 Persen
Program Strategis Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan Sektor Logistik Hingga 8 Persen

JAKARTA - Optimisme terhadap sektor logistik nasional menguat menjelang 2026. 

Di tengah tekanan ekonomi global dan tingginya biaya operasional, pelaku industri tetap melihat ruang pertumbuhan yang menjanjikan. Sejumlah program strategis pemerintah dinilai menjadi katalis penting bagi penguatan rantai pasok nasional.

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memprediksi sektor rantai pasok atau supply chain dan logistik mampu tumbuh hingga 8% pada 2026. 

Proyeksi ini muncul meskipun tantangan global dan domestik masih membayangi dunia usaha. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan tersebut.

Ketua ALI Mahendra Rianto mengungkapkan sektor industri rantai pasok dan logistik pada 2026 optimistis akan mengalami pertumbuhan positif. 

Analisis tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia serta kebijakan pemerintah yang berfokus pada konsumsi domestik. Arah kebijakan ini dinilai memperkuat permintaan distribusi barang dan jasa logistik.

Proyeksi Pertumbuhan dan Strategi Industri

“Skenario yang mungkin terjadi adalah skenario subjektif moderat, yaitu tumbuh mencapai 6%–8%,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan optimisme yang tetap realistis di tengah dinamika ekonomi global. Industri logistik diperkirakan tetap ekspansif meski tidak lepas dari tekanan biaya.

Untuk tetap bertahan, perusahaan logistik Indonesia diprediksi akan lebih selektif dalam ekspansi. Fokus diarahkan pada efisiensi biaya serta diversifikasi pemasok dan rute untuk memitigasi risiko global. Strategi ini menjadi kunci menjaga keberlanjutan usaha di tengah ketidakpastian.

Mahendra melihat pertumbuhan logistik nasional masih akan ditopang oleh tiga kontributor utama. Peran e-commerce, industri pengolahan dan cold chain, serta third party logistics (TPL) tetap menjadi motor penggerak. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki daya tahan kuat terhadap gejolak eksternal.

Peran MBG dan Kopdes Merah Putih

Selain faktor tradisional, keberadaan Ibu Kota Nusantara yang mulai berfungsi sebagai hub logistik Indonesia Tengah-Timur turut memberikan dampak. Program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih juga diprediksi menopang pertumbuhan sektor ini. Keduanya menciptakan permintaan distribusi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Dalam laporan Outlook Supply Chain dan Logistik Indonesia 2026 milik ALI, MBG disebut sebagai penggerak ekonomi dan modernisasi supply chain serta logistik pangan. Program ini menuntut ketepatan waktu, mutu, dan keamanan pangan dalam skala besar. Konsekuensinya, forecasting, traceability, dan cold chain menjadi kebutuhan wajib.

“Dengan desain SCM [supply chain management] yang tepat, MBG bertransformasi dari beban fiskal menjadi mesin penguatan rantai pasok nasional,” tuturnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa manajemen rantai pasok menjadi faktor krusial dalam efektivitas program. Integrasi sistem distribusi dinilai mampu menciptakan efisiensi sekaligus nilai tambah.

Tantangan Biaya dan Reformasi Sistem

Dari sudut pandang ALI, Kopdes Merah Putih mampu memperpendek rantai pasok. Program ini berpotensi meningkatkan nilai tambah serta daya tawar petani di tingkat desa. Dengan jalur distribusi yang lebih ringkas, efisiensi biaya dapat lebih mudah dicapai.

Meski demikian, ALI masih mengharapkan peran pemerintah yang lebih konkret dalam mengatasi problema logistik nasional. Biaya logistik Indonesia masih tergolong tinggi, yakni sekitar 14,29% dari PDB pada 2023. Angka tersebut menunjukkan perlunya pembenahan struktural agar daya saing meningkat.

Menurut Mahendra, pemerintah perlu berfokus pada transformasi digital, perbaikan infrastruktur, dan harmonisasi regulasi. Ketiga aspek ini menjadi fondasi penting dalam menurunkan biaya distribusi. Tanpa reformasi menyeluruh, efisiensi logistik akan sulit tercapai secara optimal.

Data Pertumbuhan dan Prospek Ke Depan

Pada 2025, Badan Pusat Statistik mencatat lapangan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama didorong peningkatan aktivitas pengiriman barang domestik maupun luar negeri. Tren tersebut menjadi sinyal positif bagi industri logistik nasional.

Transportasi dan pergudangan juga termasuk dalam tiga sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Sektor ini berada setelah jasa lainnya yang tumbuh 9,93% dan jasa perusahaan sebesar 9,10%. Capaian tersebut memperlihatkan peran strategis logistik dalam menopang perekonomian.

Dengan dukungan program MBG, Kopdes Merah Putih, serta penguatan infrastruktur dan digitalisasi, sektor logistik diproyeksikan tetap ekspansif pada 2026. Pelaku industri menilai momentum ini sebagai peluang memperkuat daya saing nasional. 

Jika strategi efisiensi dan kolaborasi berjalan optimal, pertumbuhan hingga 8% bukanlah target yang sulit dicapai.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index