JAKARTA - Program biodiesel berbasis kelapa sawit menjadi pilar utama ketahanan energi nasional.
Skema ini tak hanya menekan impor energi tetapi juga menghemat devisa negara. Selain itu, biodiesel membantu menurunkan emisi karbon, sejalan dengan upaya transisi energi berkelanjutan.
Ahmad Zuhdi menjelaskan, BPDP tidak hanya menanggung insentif biodiesel, tetapi juga mendukung pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat. “Dana dari pungutan ekspor sawit kami kelola kembali untuk mendukung keberlanjutan industri,” ujarnya. Langkah ini memperkuat hubungan antara industri sawit dan pembangunan ekonomi nasional.
Program ini telah menunjukkan hasil nyata hingga akhir 2025. BPDP menanggung selisih harga solar dan biodiesel untuk sektor PSO sebesar 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun. Sementara itu, sekitar 4.000 beasiswa disalurkan, riset produktivitas sawit didukung, dan fasilitas perkebunan diperbarui.
Peran Kebijakan dan Regulasi
Biodiesel juga menjadi instrumen strategis lintas sektor, menegaskan Anggota Dewan Energi Nasional Fadhil Hasan. Pemerintah melalui Kebijakan Energi Nasional memastikan penggunaan biodiesel mampu mengurangi ketergantungan impor. “Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi,” tegasnya.
Realisasi biodiesel sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter dan menekan impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter. Kontribusi ini berpengaruh langsung pada penguatan indeks ketahanan energi nasional. Program ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi dan pengembangan energi domestik.
Dengan dukungan regulasi, industri dapat menyalurkan biodiesel melalui skema pencampuran wajib di terminal sebelum ke SPBU dan industri. Skema ini memastikan distribusi merata dan sesuai standar kualitas. Pengawasan dilakukan untuk menjamin pasokan tepat sasaran.
Kapabilitas Industri dan Target Produksi
Industri biodiesel kini memiliki kapasitas terpasang mencapai 22 juta kiloliter pada 2026. Dari jumlah tersebut, alokasi penyaluran diperkirakan sekitar 16,5 juta kiloliter. Realisasi 2025 mencapai hampir 15 juta kiloliter atau 96 persen dari target, menunjukkan kesiapan sektor industri.
Herbert Wibert Victor menekankan pentingnya pengelolaan kapasitas agar produksi tetap optimal. “Distribusi melalui terminal dan pencampuran wajib memastikan biodiesel tersedia untuk sektor PSO dan industri,” ujarnya. Sistem ini memungkinkan pemanfaatan energi terbarukan secara maksimal.
Peningkatan kapasitas ini juga memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan volume produksi yang besar, ketergantungan pada impor energi fosil semakin berkurang. Industri dapat lebih fokus pada inovasi dan efisiensi produksi.
Kontribusi Ekonomi dan Lingkungan
Program biodiesel memberikan dampak signifikan pada ekonomi dan lingkungan. Qayuum Amri menyebut, sejak 2009 konsumsi biodiesel naik dari sekitar 1 juta kiloliter menjadi 15 juta kiloliter. Sepanjang 2015–2025, program ini menghemat devisa hingga Rp720 triliun dan menurunkan emisi sekitar 228 juta ton CO?.
Selain itu, pengembangan riset biofuel mendapat dukungan dari kunjungan lapangan ke SBRC IPB University. Peserta workshop dapat melihat langsung inovasi teknologi yang mendukung produksi biodiesel berkelanjutan. Kegiatan ini juga meningkatkan literasi publik terkait energi terbarukan.
Kontribusi ekonomi lain terlihat pada penyerapan tenaga kerja. Program B40 pada 2025 melibatkan sekitar 1,9 juta pekerja, dengan penghematan devisa sekitar Rp140 triliun. Hal ini memperlihatkan bahwa biodiesel bukan sekadar energi alternatif, tetapi juga pendorong pertumbuhan ekonomi.
Siap Menuju B50 dan Tantangan Implementasi
Indonesia kini menjadi salah satu pelaksana program biodiesel terbesar di dunia. Ernest Gunawan menegaskan, skala produksi saat ini menjadi acuan bagi negara lain. “Skala kita paling besar,” ujarnya. Program ini menunjukkan kesiapan industri dalam mendukung ketahanan energi global.
BPDP dan APROBI menegaskan bahwa transisi dari B40 ke B50 perlu persiapan matang. Pasokan bahan baku dan kebutuhan pangan harus dijaga agar implementasi tetap berkelanjutan. “B40 saat ini sudah ideal dan berkelanjutan,” pungkas Ernest.
Tantangan ke depan termasuk menjaga kualitas pasokan, distribusi yang merata, dan penerapan teknologi terbaru. Dengan strategi yang tepat, biodiesel sawit akan terus memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini sekaligus mendorong Indonesia menjadi pelopor energi terbarukan di kawasan regional.