JAKARTA - Perubahan harga bahan bakar minyak kembali menjadi perhatian masyarakat di berbagai daerah.
PT Pertamina melakukan penyesuaian harga sejumlah jenis BBM yang mulai berlaku pada Maret 2026. Penyesuaian ini mencakup berbagai jenis BBM yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di seluruh Indonesia.
Penyesuaian harga tersebut dilakukan mengikuti kebijakan yang mengatur perhitungan harga dasar bahan bakar minyak. Kebijakan ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang merupakan perubahan atas aturan sebelumnya mengenai formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM.
Aturan tersebut menjadi acuan dalam menentukan harga bahan bakar jenis bensin dan solar yang disalurkan melalui SPBU.
Berdasarkan pengumuman resmi, harga BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian pada berbagai produk. Kenaikan terjadi pada produk Pertamax Series serta Dex Series yang dijual kepada masyarakat. Sementara itu, harga BBM subsidi tetap dipertahankan tanpa perubahan.
Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi
Harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan pada beberapa jenis produk yang dijual di SPBU. Produk yang mengalami penyesuaian harga antara lain Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, Dexlite, serta Pertamina Dex. Perubahan harga ini berlaku di berbagai wilayah Indonesia dengan besaran yang berbeda.
Di wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat harga Pertamax mengalami kenaikan. Harga baru Pertamax menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800 per liter. Penyesuaian ini merupakan bagian dari kebijakan harga BBM yang berlaku secara nasional.
Selain itu, harga Pertamax Turbo juga mengalami kenaikan menjadi Rp13.100 per liter dari sebelumnya Rp12.700 per liter. Produk Pertamax Green 95 juga mengalami penyesuaian harga menjadi Rp12.900 per liter dari sebelumnya Rp12.450 per liter. Sementara itu, produk diesel seperti Dexlite naik menjadi Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp14.500 per liter.
Harga BBM Subsidi Tetap Stabil
Di tengah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, harga bahan bakar subsidi tetap dipertahankan. Pertalite masih dijual dengan harga Rp10.000 per liter di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, harga Biosolar atau Solar subsidi tetap berada pada level Rp6.800 per liter.
Stabilnya harga BBM subsidi memberikan kepastian bagi masyarakat yang mengandalkan bahan bakar tersebut untuk aktivitas sehari-hari. Kebijakan ini juga bertujuan menjaga stabilitas ekonomi serta mendukung mobilitas masyarakat. Dengan harga yang tetap, masyarakat tetap dapat memperoleh bahan bakar dengan biaya yang terjangkau.
Perbedaan harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi juga menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan energi nasional. Produk nonsubsidi mengikuti mekanisme penyesuaian harga sesuai formula yang telah ditetapkan. Sementara produk subsidi tetap dijaga untuk kepentingan masyarakat luas.
Daftar Harga BBM di Berbagai Wilayah Indonesia
Harga BBM Pertamina di setiap wilayah memiliki perbedaan tertentu. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk distribusi dan kebijakan wilayah. Berikut daftar harga BBM di sejumlah wilayah Indonesia.
Aceh dan Sumatera Utara
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.350 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Pertamina Dex: Rp14.800 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Free Trade Zone Sabang
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp11.550 per liter
Dexlite: Rp13.250 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.900 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.650 per liter
Dexlite: Rp14.800 per liter
Pertamina Dex: Rp15.100 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
FTZ Batam
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp11.750 per liter
Pertamax Turbo: Rp12.400 per liter
Dexlite: Rp13.450 per liter
Pertamina Dex: Rp13.800 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Lampung
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.350 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Pertamina Dex: Rp14.800 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.300 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.100 per liter
Pertamax Green 95: Rp12.900 per liter
Dexlite: Rp14.200 per liter
Pertamina Dex: Rp14.500 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Bali dan Nusa Tenggara Barat
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.300 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.100 per liter
Dexlite: Rp14.200 per liter
Pertamina Dex: Rp14.500 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.300 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Pertamina Dex: Rp14.800 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.900 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.650 per liter
Dexlite: Rp14.800 per liter
Pertamina Dex: Rp15.100 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.350 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Pertamina Dex: Rp14.800 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Maluku dan Maluku Utara
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Papua
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Pertamax Turbo: Rp13.350 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Papua Barat dan Papua Barat Daya
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Pertamina Dex: Rp14.800 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan
Pertalite: Rp10.000 per liter
Pertamax: Rp12.600 per liter
Dexlite: Rp14.500 per liter
Solar: Rp6.800 per liter
Kebijakan Harga BBM Mengikuti Formula Energi Nasional
Penyesuaian harga BBM yang dilakukan Pertamina mengikuti formula yang telah ditetapkan pemerintah. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara harga energi dan kondisi ekonomi. Dengan sistem formula harga dasar, perubahan harga dapat dilakukan secara terukur.
Melalui kebijakan ini, harga BBM nonsubsidi dapat menyesuaikan dengan dinamika pasar energi global. Sementara itu, pemerintah tetap menjaga stabilitas harga BBM subsidi agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan kemampuan masyarakat dalam mengakses bahan bakar.